Jumat, 13 Mei 2016

Amil, amal dan ma’mul






Amil, amal dan ma’mul
Oleh: nihayatul faizah

Amil
Amil adalah lafadz yang mempunyai pengamalan terhadap kalimat lain, sehingga menyebabkan suatu kalimah memiliki i’rob rafa’ atau nashab atau jer  yang semuanya berjumlah 100 amil. Yang bisa menjadi amil adalah kalimat fiil dan lafal yang menyerupainya ( isim fail, isim maf’ul, masdar, isim tafdhil, sifat musyabbahat dan isimfiil ), perabot yang bias menashabkan fiil mudhori’  atau yang bias menjazmkanya, huruf-huruf yang bias menashabkan mubtada’ dan yang merofa’kan khobar, huruf yang bias merofa’kan mubtada’, dan yang menashabkan khobar, huruf jer, mudhof dan mubtada’.
Amil secara umum dibedakan menjadi dua macam, yaitu
1.       Amil lafdzi (98 amil)
Adalah amil yang menyebabkan berubahnya harakat di akhir kalimat seperti huruf jer atau jazm atau nashab atau bias diartikan sebagai lafal yang bias member pengaruh kepada lafal lainya yang dilafalkan. Contohإنَّ في العملِ لذةً ليْسَتْ في البطالةِ:
Amil lafdzi dikelompokkan lagi menjadi 2:
A.      Sima’iyah, dibedakan menjadi 13 kelompok:
·         Huruf yang menjerkan kalimat isim (19 amil), yaitu:الباء، من، إلى، في، عن، واوالقسم، باءالقسم، تاءالقسم، ربّ، واورب، على، الكاف، مذ، منذ، حتى، حاشا، عدا، خلا
·         Huruf yang menashabkan isim dan merofa’kan khobar (6 amil), yaitu:إنّ، أنّ، كأنّ، لكنّ، ليت، لعلّ
·         Huruf yang menashabkan isim dan merofa’kan khobar (2 amil), yaitu:ما، لا
·         Huruf yang menashabkan kalimat isim(7 amil), yaitu:واومعية، إلاّ، يا، إيا، هيا، أى، أ
·         Huruf yang menashabkan fiil mudhori’ (4 amil), yaitu:أن، لن، كي، إذن
·         Huruf yang menjazmkan fiil mudhori’ (5 amil), yaitu:إنْ، لم، لما، لام الأمر، لانهي
·         Isim yang menjazmkan 2 fiil mudhori’  dengan menyimpan makna إنْ (9 amil), yaitu:مَنْ، ما، أي، متى، مهما، أين، انى، حيثما، إذما
·         Isim yang menashabkan isim nakiroh dan menjadikanya tamyiz (4 amil), yaitu:
ü  Lafad عشرة jika tersusun bersama lafadz أحد، إثنين  sampai تسعة وتسعين (bilangan dari  10-99)
ü  كم
ü  كاين
ü  كذا
·         Asmaul af’al (9 amil), yaitu:
ü  Menashabkan kalimat isim:حيهل، رويد، بله، دونك، عليك، هاء
ü  Merofa’kan kalimat isim:هيهات، شتان، سرعان
·         Af’alul naqishoh, beramal merofa’kan isimnya dan menashobkan khobarnya (13 amil), yaitu:كان، صار، أصبح، أمسى، أضحى، ظل، بات، مازال، مابرح، مافتئ، ماانفك، مادام، ليس
·         Af’alul muqorobah, beramal seperti lafadz كان (4 amil), yaitu:عسى، كاد، اوشك، كرب
·         Af’alul madh wa dzam yaitu fiil yang digunakan untuk memuji danmenghina, beramal menashabkan merofa’kan isim jenis yang dima’rifatkan dengan ال (4 amil),yaitu:نِعْمَ، بِئْسَ، ساء، حبذا
·         Af’alul syak wa yaqin, fiil ragu-ragu dan yaqin yang beramal menashabkan 2 maful (7 ami), yaitu:زعمتُ، حسبتُ، خلتُ، ظننتُ، رأيتُ، علمتُ، وجدتُ
B.      Qiyasiyah ; amil qiyasiyah ada 7 amil, yaitu:
·         Kalimah fiil
·         Isim fail
·         Isim maful
·         Sifat musyabbihat
·         Mashdar
·         Setiap isim yang disandarkan atau dimudhofkan pada kalimah isim lainya
·         Setiap isim yang sempurna dan tidak membutuhkan idhofah, seperti isim mubham

2.       Amil ma’nawi (2 amil)
Adalah kalimat isim atau fiil mudhori’ yang sepi dari lafal yang bisa mempengaruhinya lafal yang dilafalkan atau bisa diartikan fiil mudhori’ yang sepi dari amil-amil nawashib dan amil-amil jawazm dan mubtada’ yang sepi dari amil nawasikh.
Ami lma’nawi hanya ada 2 macam yaitu
·         Amil ma’nawi ibtida’الطَبِيْبُ ماهِرٌ:
·         Amil ma’nawi tajarrudيقطفُ المزارعُ الموسمَ :
Yang dinamakan tajarrud atau sepi (kekosongan) adalah tidak disebutkanya amil. Itu adalah sebab ma’nawi dalam merofa’kanya amil itu pada lafal yang dikosongkan dari amil yang bersifat lafdzi, seperti mubtada’  dan fiil mudhori’ yang tidak didahului amil nawashib dan jawazm.
Ma’mul.
Ma’mul adalah lafal  yang huruf terakhirnya mengalami perubahan dengan rafa’ atau nashab atau jer atau jazm karena mendapat pengaruh dari amil.Yang bias menjadi ma’mul adalah kalimat isim dan fiil mudhori’.
Ma’mul ada dua macam, yaitu:
 ma’mul bil ashalah (asalnya memang sudah menjadi ma’mul), yaitu lafal yang mendapat pengaruh dari amil secara langsung, seperti fail dan naibul fail, mubtada’ dan khobarnya, isimnya fiil naqish dan khobarnya, isimnya (إنّ) dan saudara-saudaranya serta khobarnya, macam-macam maf’ul, haal, tamyiz, mustatsna, mudhof ilaih dan fiil mudhori’. Contoh :    إنّ زيدا قائمٌ
ma’mul bil tabi’iyah, yaitu lafal yang mendapat pengaruh dari amil dengan lantaran mengikuti lafal yang lainya, seperti na’at, ‘athaf, taukid, badal, karena kesemuanya dibaca rafa’, nashab, jer, atau jazm disebabkan mereka semuanya mengikuti lafal yang dibaca rafa’, nashab, jer, atau jazm. Dan amil pada semuanya adalah amil yang terdapat pada lafal yang mereka ikuti yang mendahuluinya. Contoh : جاء رجلٌ عاقلٌ
Amal.
Amal (atau yang dinamakan I’rob) adalah pengaruh yang didapatkan karena mempengaruhinya amil pada suatu lafal, yaitu dari dibaca rafa’, nashab, jer, atau jazm.  Contoh : زيدٌ قائمٌ
Bila ditanyakan mengapa I’rob hanya terjadi di huruf terakhirnya suatu kalimat, maka bisa dijawab dari dua sisi, yaitu:
a)      I’rob adalah dalil atau yang menunjukkan, sedangkan lafal yang dii’robi adalah sebagai madlulalaih atau yang ditunjukkan. Sehingga dalil tidak boleh dipasang kecuali setelah mendahulukan madlul alaih.
b)      Jika I’rob diletakkan di depan, maka hal itu tidaklah dapat dimungkinkan, karena awal dari suatu kalimat pasti berharakat, sehinggat idak akan dapat diketahui apakah kalimat itu mu’rab ataukah mabni, dan sebagian dariI’rabada yang jazm yang ditandai dengan sukun.
Jika sukun diletakkan di awal, maka tidak akan dapat dimungkinkan, karena nantinya kalimat itu tidak dapat diucapkan. Jika I’rob diletakkan di tengah, maka wazan dari kalimat itu tidak akan dapat diketahui, selain itu kalimat yang ruba’I (yang mempunyai empat huruf) tidak mempunyai tengah.

11 komentar: